Corporate Social Responsibility

Aburizal: Anak Sejuta Bintang Perjalanan Panjang, Cinta dan Tantangan

Sosok Aburizal Bakrie, akrab disapa Ical, tentu sudah banyak dikenal publik. Ia adalah (mantan) pengusaha nasional yang sukses, mantan menteri, pernah memimpin sejumlah organisasi, dan kini menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Tapi, siapa sangka jika dibalik popularitas dan kesuksesannya itu, banyak cerita yang belum terungkap publik, yaitu mengenai kehidupan masa kecilnya dan pola asuh yang diterima dari keluarganya, yang dikemudian hari terbukti berpengaruh besar terhadap kesuksesannya.

Cerita inspiratif itu kini bisa dinikmati publik setelah pada Sabtu, 28 Janurari 2012, sebuah novel berjudul Anak Sejuta Bintang karya Akmal Nasery Basral yang diterbitkan oleh Expose (Mizan Group) diluncurkan di Museum Nasional, Jln. Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Novel biografis yang mengambil setting Jakarta tahun 1950-an itu mengungkap kehidupan masa kecil Ical dalam interaksinya dengan keluarga dan teman-teman sepermainannya saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) di Yayasan Perwari. Kisah itu diwarnai keriangan dan kegilaan dunia anak-anak, serta yang terpenting nilai-nilai luhur kehidupan keluarganya.

Keluarga yang menjadi latar belakang cerita dalam Novel setebal 400 halaman itu adalah keluarga seorang saudagar, orang tua Ical yang bernama Achmad Bakrie kelahiran Lampung dan istrinya yang bernama Roosniah bermarga Nasution, berasal dari Sumatera Utara.

Salah satu bagian dari kisah dalam buku ini menceritakan dialog anak-orang tua yang penuh inspirasi dan kasih sayang orang tua dalam mendidik anaknya.

Ical kecil menunduk. Tapi, ia menyimak kata-kata ayahnya dengan seksama. "Jadi, Papa dan Mama ingin Ical menjadi pemimpin yang pemberani, laki-laki yang melindungi. Seorang laki-laki pemberani, pemimpin yang berjiwa pelindung, tak akan membiarkan dirinya dikuasai kesedihan terus menerus. Bukan kesedihan yang menguasai dirinya, tetapi dirinya yang harus bisa menguasai kesedihan. Sedih itu boleh, manusiawi, tapi jangan terlalu lama. Kalau kita anggap suasana gembira itu seperti siang hari yang cerah dan terang, maka kesedihan itu adalah suasana gelap. Kita tidak boleh terlalu lama di dalam gelap, Cal. Kamu tahu mengapa?"

Ical kembali menggeleng. "Karena kalau kita berdiri terlalu lama di dalam gelap, maka bayangan kita pun akan pergi meninggalkan kita. "Ical tersentak mendengarkan kalimat Sang Ayah itu.

Dalam peluncuran novel itu Ical mengaku senang, karena novel ini mengisahkan tentang pendidikan kepada anak-anak. "Saya senang sekali, buku ini adalah mengenai pendidikan anak-anak yang InsyaAllah bisa jadi contoh buat pendidikan anak sekarang. Bagaimana menghargai orang tua, bagaimana berdisiplin terhadap waktu," katanya.

Novel itu juga mengisahkan bagaimana menghargai pertemanan dan bagaimana bisa punya semangat bertarung untuk mengejar cita-cita. "Itulah yang saya kira InsyaAllah menjadi yang terbaik. Saya pun tidak mau saat diusulkan berupa buku otobiografi. Sama sekali bukan otobiografi," kata Aburizal.

Peluncuran novel berlangsung meriah dengan nuansa Betawi. Museum Nasional yang juga dikenal sebagai Museum Gajah, tempat acara ini berlangsung, pada malam itu disulap dengan dekorasi ala Betawi. Para penerima tamunya pun bergaya Abang None Jakarta dengan mengenakan pakaian khas Betawi. Juga disajikan makanan-makanan khas ala Betawi dari kue ape, asinan, kue pancong, kerak telor, dan sebagainya. Selain itu, kemeriahan juga terlihat dari pertunjukan Barongsai.

Acara itu dihadiri tamu dari berbagai kalangan pejabat pemerintah, politisi, pengusaha, hingga artis. Tampak antara lain Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Kelautan dan Perikanan Syarif Cicip Sutarjo, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amelia Sari bersama suami Agum Gumelar, Wakil Ketua MPR Hajriyanto Thohari, Budayawan Arswendo Atmowiloto, Politisi Golkar Rizal Mallarangeng, sastrawan NH Dini, Palgunadi T Setyawan, Dewi Motik Pramono, pimpinan ESQ Ary Ginanjar, Erik Meijer dan istri, Ardi Bakrie dan istri, artis Asti Asmodiwati, artis Sultan Djorgie dan Anissa Tri Hapsari.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar mengatakan novel Anak Sejuta Bintang dapat menjadi bacaan alternatif bagi masyarakat dan juga dapat meningkatkan minat membaca.

"Novel tersebut tidak hanya penting bagi anak-anak, tapi juga menjadi inspirasi bagi ibu dan bapak untuk mendidik anak," kata Linda.

Penerbitan Novel ini digagas empat orang yakni Bobby Gafur Umar, Presiden Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Irwan Syarkawi Presiden Komisaris BNBR, Catherine E. Kusumarini dan Isje S. Latief, yakni Sekretaris dan mantan Sekretaris Aburizal Bakrie.

Bobby dalam sambutannya mengatakan, kisah Ical kecil ditulis dalam bentuk novel, karena kalau tulisan tentang Aburizal Bakrie sudah banyak saat ini. Novel ini menurut Bobby, sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang luhur yang dapat membuka hati akan arti suatu kekeluargaan, bagaimana kisah seorang anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai luhur yang abadi, dapat menjadi pembelajaran.

"Novel ini mengisahkan tentang Ical sejak TK sampai kelas 6 di Sekolah Dasar Perwari, Jakarta Pusat. Sangat layak untuk menjadi contoh mengenai pendidikan anak-anak. Semoga dengan hadirnya novel ini bisa menjadi contoh dan nilai baik bagi pendidikan anak-anak Indonesia di masa mendatang," kata Bobby.

Tokoh Pendidikan Prof Dr H Arief Rahman M.Pd mengungkapkan dalam endorsment buku ini: "Novel ini menyadarkan kita bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh kekayaan dan status, namun berkat pola asuh yang benar dan tepat. Bahasanya segar dan menghibur. Patut dibaca orang tua, pendidik, anak-anak, dan remaja."(ITA/RBP)


Catatan:
Newsletter Untuk Negeri adalah medium internal Kelompok Bakrie yang diterbitkan oleh Badan Pengelola Gerakan Bakrie Untuk Negeri