News

Tambang Seng Dairi Prima Terancam Tidak Bisa Produksi

BY IGNASIUS LAYA 

JAKARTA – Tambang seng PT Dairi Prima Mineral, anak usaha PT Bumi Resources Mineral (BMRS) di Sumatera Utara berpotensi tidak bisa berproduksi, meski studi kelayakan (feasibility study/FS) tambang telah disetujui pemerintah.

Junjungan Harahap, Direktur Dairi Prima Mineral, mengatakan perusahaan tidak bisa melakukan produksi karena tahun depan pemerintah akan melarang ekspor mineral mentah dan mewajibkan perusahaan mengelola dan memurnikan hasil tambangnya di dalam negeri.

Dairi Prima telah mendapatkan persetujuan studi kelayakan tambang untuk memproduksi bijih seng menjadi konsentrat pada 2005. Sementara izin pinjam pakai lahan tahun lalu telah diperoleh dari Kementerian Kehutanan.

Perusahaan juga telah menyiapkan investasi US$ 400 juta untuk membangun pabrik yang dapat mengolah satu juta ton bijih seng menjadi konsentrat. Bahkan, sebagian peralatan untuk pabrik pengolahan telah diimpor.

“Kalau pemerintah izinkan ekspor konsentrat, baru kita bisa segera produksi,” kata dia di Jakarta, Jumat.

Junjungan mengatakan pemerintah seharusnya konsisten dengan FS yang telah disetujui dan mempertimbangkan agar Dairi Prima tidak dipaksa memurnikan bijih seng karena cadangan yang dimiliki hanya enam juta ton. Jumlah  cadangan tersebut menjadi tidak ekonomis kalau harus diolah di dalam negeri.

“Izinnya samapai konsentrat bukan pemurnian. Kami bersedia jual konsentrat kalau ada smelter-nya. Tetapi belum ada investor yang mau bangun. Jadi sangat naïf kalau pemerintah suruh bangun smelter,” kata dia.

Herwin  Hidayat, Vice President Investor Relations Bumi Minerals, sebelumnya mengungkapkan tambang  seng dan timah hitam di Sumatera Utara milik anak usahanya PT Dairi Prima Mineral ditargetan berproduksi pada 2016 mendatang. Dairi Prima Mineral telah mendapatkan izin eksploitasi penambangan bawah tanah untuk konsesi tambang seng dan timah hitam dari pemerintah pada Juli tahun lalu.

 Tambang yang 20% dikuasai Aneka Tambang itu diperoleh melalui kontrak karya 1998 dan memiliki luas lahan 27.420 hektar yang terletak di Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam. Tambang itu memiliki kadar seng 11,5 % dan dengan cadangan teridentifikasi sebesar 6,3 juta ton dan pada 2016 ditargetkan mulai memproduksi satu juta ton bijih.

Pembatasan

Mangantar Marpaung, pengamat pertambangan, mengatakan pemerintah sebaiknya tidak menyeragamkan pembatasan ekspor mineral mentah tahun depan. Pasalnya,  cara pengolahan dan pemurnian masing-masing jenis mineral berbeda, dengan jumlah investasi yang juga berbeda, sehingga waktu penyelesaian pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) juga berbeda.

“Sekarang ada jenis mineral seperti timah dan tembaga sudah bisa diolah di dalam negeri.  Tetapi mangan dan nikel kita belum punya dan itu perlu waktu. Jadi kalau ekspor mineral mentah dibatasi tahun depan, jangan semuanya,” kata dia.

Marpaung mengatakan setiap jenis komoditas di pasar dunia juga berbeda. Pemerintah harus menentukan mana jenis komoditas yang pembangunan smelternya harus didorong dan dibatasi ekspornya. Serta jenis mineral mana yang ekspornya tidak dibatasi dengan segera.(*)